Tak Manusiawi, BPN Minta Semua Mayat KPPS Yang Meninggal Divisum

POLITIKVIRAL.COM – 554 orang anggota KPPS meninggal dunia. bukannya berduka, kubu Prabowo malah mencari gara-gara. Mereka mau mayat-mayat itu dibongkar, diangkat dari kuburnya dan divisum. Dicari tahu penyebab kematiannya. Sebagian lagi menuduh ada yang diracun. Sehingga akhirnya narasi pembodohan yang disampaikan ke publik adalah, terjadi pembunuhan massal kepada anggota KPPS untuk melancarkan kecurangan pemilu.

Keji memang, tapi begitulah kubu Prabowo sejak dulu. Sejak Pilkada DKI, mereka tak pernah ragu untuk menghalalkan segala cara. Jika dulu mayat-mayat diancam tak dishalatkan, hari ini mereka mau mengusik mayat-mayat yang sudah tenang di alam kubur.

Menggoreng anggota KPPS yang meninggal dunia hanyalah salah satu cara untuk menyalahkan KPU dan pemerintah. Sebuah visi misi yang selalu mereka lakukan sejak 2014 lalu. sementara meminta mayat-mayat pahlawan demokrasi itu dibongkar kembali, hanya sebagai tameng saja. Tujuannya bukan benar-benar untuk mencari tahu, tapi menciptakan hoax baru yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Ini memang tuduhan, tapi bukankah memang begitulah mereka selama ini? dari hoax Ratna, selang RSCM, tempe setipis ATM, Indonesia Bubar, PKI dan sebagainya.

Oke, segala kemarahan dan narasi buruk itu sudah saya bahas di artikel sebelumnya. Sekarang saya ingin membahas soal angka-angka.

Saya bukan tak berbelasungkawa. Bukan pula tak prihatin dengan banyaknya orang meninggal dunia. 554 orang itu memang sangat banyak sekali dan kita patut bersedih. Tapi, banyak sedikit itu soal perbandingan. Kalau anggota KPPS di seluruh Indonesia hanya ada 1,000 orang, maka 554 itu banyak sekali. tidak wajar, misterius dan mencurigakan. Tapi tahukah kalian, berapa jumlah anggota KPPS di seluruh Indonesia? 7.385.500 orang anggota KPPS. Sebanyak 250.212 orang anggota PPS. Dan personel PPK sebanyak 36.005 orang.

554 orang anggota KPPS meninggal dunia dengan berbagai alasan. Ada yang kecapean, ada yang penyakitnya kambuh, ada juga yang memang sudah taqdirnya meninggal. Seperti kita tahu, penyebab seseorang meninggal itu hanya di wilayah logika kita sebagai manusia. Sementara Tuhan sudah menuliskan taqdir pada setiap orangnya.

Ada orang yang meninggal saat tertidur. Bahkan ada orang meninggal saat berolahraga. Maka ketika 554 orang meninggal karena dianggap kelelahan karena mengawal jalannya pesta demokrasi, seharusnya ini sudah bisa diterima oleh akal sehat. Tapi lucunya, malah ada dokter yang entah dari mana, tiba-tiba muncul mengaku sebagai pakar dan menyatakan bahwa tidak ada orang meninggal karena kecapean.

Kecerdasannya dalam dunia medis digunakan untuk menyalah-nyalahkan pemerintah dan KPU. Dia berbicara dalam lingkup teori kesehatan, sementara kita sebagai orang awam berbicara dalam logika sederhana tentang sebuah sebab dan akibat.

Si dokter sudah benar dengan teorinya. Tapi itu mengelabuhi. Dia berbicara soal jantung, liver, paru-paru dan beragam jenis organ-organ manusia yang menjadi penyebab seseorang meninggal dunia. sementara kita hanya berbicara soal dasarnya saja: kelelahan. Karena memang tugas KPPS itu melelahkan, pagi ketemu pagi. Dan kelelahan dapat mengganggu organ-organ yang disebutkan.

Kalau tidak percaya dengan alasan kelelahan, lihat saja para jamaah haji yang setiap tahunnya meninggal dunia karena alasan yang sama. Pada tahun 2016, sebanyak 342 orang jemaah meninggal dunia. tahun 2017, sebanyak 657 jemaah meninggal dunia. Dan di tahun 2018, ada 381 jemaah haji meninggal dunia.

Jumlah jemaah haji asal Indonesia berkisar 200 ribu jemaah setiap tahunnya, dan yang meninggal berada di kisran 0.18 sampai 0.30 persen dari total jemaah. Lalu bandingkan dengan petugas KPPS yang berjumlah 7.385.500 orang dan meninggal dunia 554 orang. Angka kematiannya hanya 0.007 persen.

Sampai di sini mungkin akan ada kampret tengik yang bilang, ya kan haji lebih capek dari anggota KPPS. Perbandingan capek tidaknya itu soal persepsi dan tergantung ketahanan tubuh masing-masing orang. Tidak bisa kita ukur dan sama ratakan. Pada intinya, dalam sebuah angka yang besar, pasti ada kematian.

Menurut data BPS tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia mencapai 238.52 juta jiwa. Dalam setahun, angka kelahiran mencapai 5 juta jiwa dan angka kematian sebanyak 1.52 juta jiwa. Sehingga pada tahun 2011, jumlah penduduk bertambah sekitar 3.4 juta jiwa menjadi 242 juta jiwa. Artinya apa? setiap hari ada 4.222 orang meninggal dunia di Indonesia. Lalu kalian akan menyalahkan pemerintah juga? mau diotopsi semua penyebab kematiannya? Mau dibongkar semua kuburannya? Setang gundul Sinting!

Kelahiran dan kematian itu sunnatullah yang tak bisa kita hindari. Jangan kaget kalau angkanya besar hingga ratusan atau bahkan ribuan orang. Karena memang penduduknya banyak.

Jadi, saya harap kubu Prabowo tak perlu membodoh-bodohi masyarakat dengan propaganda tengik seperti itu. Silahkan kalian marah, sedih dan kecewa atas kekalahan yang kedua kalinya melawan Jokowi. Silahkan kalian bikin hoax dan menuduh orang curang. Tapi kalau sampai mayat-mayat yang kini sudah tenang di alam kubur mau kalian recoki hanya untuk sebuah pemberitaan dan isu, saya ingin bertanya, di mana hati dan nurani kalian sebagai manusia? apakah sebenarnya kalian adalah binatang?

Sumber : https://seword.com/politik/554-orang-kpps-wafat-4200-orang-wafat-setiap-hari-mau-divisum-semua-D5gATKdCx

Hits: 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 12 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.