Kader PKS Banyak yang Hengkang, Pengurus Tak Becus Urus Partai!

POLITIKVIRAL.COM – Sekitar pertengahan tahun 2018, dunia politik Indonesia sempat dikejutkan dengan kabar seorang pendiri partai Islam kenamaan memilih bergabung PDI Perjuangan.

Adalah almarhum Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ia pilih menjauh dari partai yang membesarkan namanya itu.

Yusuf Supendi memilih hijrah ke PDI Perjuangan, lantaran PKS yang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Kepengurusan yang amburadul adalah faktor utamanya.

Rupanya sejak 2004, Yusuf sudah memiliki konflik dengan PKS. Diketahui pada 2004 terjadi percikan konflik di internal PKS.

Konflik bermula saat suara dukungan di internal partai pecah terhadap dua calon presiden yaitu, Amien Rais dan Wiranto. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, dilakukan beberapa kali rapat pungutan suara.

Hasil dari rapat tersebut menghasilkan dukungan untuk Amien Rais. Namun nahas, keputusan tersebut digagalkan Hilmi Aminudin, Ketua Majelis Syuro PKS saat itu. Hilmi menggunakan hak veto sebagai keputusan akhir. Hal inilah yang membuat geram Yusuf.

Semenjak kejadian tersebut Yusuf selalu menjadi tokoh yang selalu mengambil sikap kritis dan vokal terhadap berbagai kebijakan yang diambil PKS (2004-2010).

Kebijakan yang ditentang adalah pergantian presiden PKS dari Hidayat Nur Wahid ke Tifatul Sembiring pada 2004. Menurut Yusuf, keputusan tersebut terkesan terlalu memaksakan.

Akibatnya, pada 2008, PKS mengeluarkan kebijakan yang melarang kader PKS berhubungan dengan Yusuf Supendi. Beliau diasingkan dari partai, hanya karena sikapnya yang kritis.

Sama seperti Fahri Hamzah, Yusuf juga merupakan korban dari sikap PKS yang seenaknya memecat kadernya karena tak satu jalan dengan pengurus pusat.

Yusuf Supendi dipecat dari PKS oleh Lutfi Hasan Ishaq pada 2010, saat menjabat Wakil Ketua Dewan Syariah PKS.

Begitu panjang perjalanan beliau hingga akhirnya memutuskan bergabung PDI Perjuangan. Meskipun perjuangannya harus terhenti karena ajal menjemputnya lebih dulu.

Baru-baru ini alasan bergabungnya beliau dengan PDI Perjuangan diungkapkan sang putri, Azmah Shoobiroh.

Azmah mengungkap bahwa almarhum ayahnya sudah dua tahun mempertimbangkan bergabung PDI Perjuangan. Yusuf sudah bertanya-tanya tentang PDI Perjuangan kepada teman-temannya yang lebih dulu bergabung dengan partai berlambang kepala banteng tersebut.

Yusuf terkagum saat mendatangi kantor PDI Perjuangan, beliau kaget karena PDI Perjuangan memiliki masjid di kantornya. Diketahui bahwa tak banyak partai politik yang memiliki masjid di kantornya.

Bahkan, PKS yang merupakan partai bebasis Islam tak punya masjid di kantornya. Bukti itu pun menepis isu PDI Perjuangan anti Islam.

Daripada berdakwah di kandang sapi, lebih baik berdakwah di kandang banteng, daripada ujungnya di sukamiskin,” kata Amzah menirukan ucapan sang ayah.

Kasus yang dialami Yusuf Supendi dan pengakuan sang putri menambah daftar bukti bobroknya kepengurusan PKS. Mulai dari pimpinan yang otoriter, mengasingkan kader yang tak sesuai, hingga pemecatan sepihak dengan alasan yang tidak jelas.

Ditambah dengan banyaknya kader yang memilih untuk hengkang dari partai dan bergabung dengan Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) besutan Anies Matta, semakin memperlihatkan internal partai yang tidak beres.

Pengurus partai yang baru tak mampu menjalankan amanah dengan benar, sehingga banyak masalah yang bermunculan, berujung pada semakin buruknya citra partai. (*)

Literasi:

Hits: 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *